Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label resensi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2012

Resensi: Membunuh Indonesia, konspirasi global Penghancuran Kretek


Judul: Membunuh Indonesia, konspirasi global Penghancuran Kretek
Penyususn: Abhisan DM, Hasriadi ary, Miranda Harlan
Penerbit: Katakata
Halaman: 157 Halaman
Terbit: Desember, 2011

Pendapatan negara dari cukai kretek selalu naik setiap tahunnya. Ironisnya, kampanye untuk memusuhi kretek kian gencar. Kemudian, berbagai peraturan diberlakukan agar ruang bagi penikmat kretek semakin sempit. Pertanyaan yang muncul, adakah agenda tersembunyi dari dinamika ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku ini mencoba membahas wilayah-wilayah yang memiliki kaitan dengan kretek. Dengan begitu akan tampak bagaimana letak strategis kretek terhadap budaya maupun ekonomi Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Dari hasil pengamatan, ada sinyalemen kuat yang menunjukkan adanya usaha untuk melemahkan industri tembakau dan kretek Indonesia. Pertama-tama hal itu terlihat dari sejarah industri beberapa komoditi, seperti minyak kelapa, gula, garam, hingga jamu. Awalnya komoditi-komoditi tersebut memiliki makna ekonomis. Namun, karena kampanye global yang dilakukan oleh negara-negara maju, perlahan-lahan industri tersebut meredup. Menurunnya pendapatan negara, serta nasib pilu petani yang menjadi ujung tombak penghasil bahan baku, adalah kenyataan pahit yang harus ditelan.

Salah satu contoh yang disampaikan lewat buku ini adalah kampanye untuk memperburuk citra minyak kelapa di Amerika Serikat. Hal ini terus menyebar ke seluruh dunia. Akhirnya tumbuh keyakinan bahwa minyak kelapa asal Indonesia berbahaya bagi kesehatan. Hal yang sama terjadi juga dengan industri kretek. Lembaga dunia yang paling gencar mengampanyekan anti tembakau adalah WHO (World Health Organization). Namun belakangan diketahui, kampanye tersebut didukung oleh perusahaan yang memroduksi obat-obatan penghenti kebiasaan merokok (hal. 109).

Sinyalemen berikutnya adalah, hadirnya regulasi anti-tembakau seperti Udang-undang Kontrol Tembakau di Amerika Serikat, yang melarang penjualan rokok yang mengandung zat adiktif seperti cengkeh. Anehnya, regulasi ini tidak menyentuh produksi dan peredaran rokok mentol yang diproduksi di Amerika Serikat. Untuk membatasi impor tembakau ke dalam negeri, Amerika Serikat juga membebani bea masuk yang sangat tinggi bagi produk tembakau. Bahkan kretek pun dilarang masuk, termasuk dari Indonesia. Sementara itu, perusahaan rokok terbesar di negeri itu, melebarkan sayapnya di luar negeri dengan mencaplok perusahaan rokok di puluhan negara. Ini adalah cara untuk melindungi industri tembakau dalam negeri Amerika Serikat.

Lebih jauh, kelompok-kelompok yang didanai korporasi multinasional ikut membatasi petani untuk menanam tembakau. Alhasil, Indonesia tidak kuasa membatasi impor tembakau. Sekali lagi, ini memperlihatkan bahwa negara-negara maju memang memiliki kepentingan dengan industri tembakau. Muaranya, industri kretek dalam negeri mengalami ancaman. Ini tidak hanya akan memengaruhi pendapatan dari cukai rokok, melainkan juga meningkatnya jumlah pengangguran. Pasalnya, industri kretek adalah salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja. Jika hal ini tidak ditanggapi secara serius, industri kretek nasional yang pernah mengalami masa keemasan, akan bernasib sama dengan industri lain yang kini hanya menyisakan jejak kecil. Itu sebabnya lembaga dan otoritas terkait perlu melakukan sesuatu untuk mencegahnya.(dta)

Baca Selanjutnya »»  

Jumat, 02 Desember 2011

“Perjuangan Yang Membuahkan Hasil Manis”

Judul Buku             :Sarjana Muda Menantang Samudra  Kehidupan
Penerbit                : Ufuk Press
Penulis                   : Menur Widilaksmi & Gatotkoco Suroso
Ukuran                  : 14 x 20.5 cm
Jumlah Halaman     : 480 halaman
Tahun Terbit         : 2011
ISBN                    : 978-602-8801-86-7
Harga                    : Rp. 68.900

          Sarjana Muda Menantang Samudra Kehidupan adalah novel yang ditulis oleh dua penulis muda Indonesia.  Menur Widilaksmi,  perempuan 24 tahun yang sudah berhasil meraih gelar master dan profesi psikolog klilnis yang berkecimpung didalam komunitas penulis Hermes. Dan Gatotkoco Suraso, penulis yang selalu berkeinginan kuat untuk merevolusi perfilman Indonesia.
          Buku ini menceritakan sesosok pemuda bernama Langgeng. Pemuda yang hanya berbekal suatu tekad dan keresahan atas kemiskinan di tanah kelahirannya, Kedung Pring. Langgeng mempunyai mimpi dan cita-cita mulia didalam hatinya. Pemuda yang ingin membangun desanya dan memberikan kaedilan bagi tetangga serta keluargannya.  Ia sangat ingin mengubah kepercayaan bahwa orang kecil adalah orang yang pada akhirnya, terlalu sering kalah. Ia yakin, kemenangan pasti bisa diraih orang kecil yang sudah biasa merasakan kalah. Berjuang keras untuk melawan takdir yang ia derita. Demi mewujudkan impiannya, ia tak pernah putus asa dan selalu  bisa menyingkirkan halang rintang yang selalu menghampirinya. Setelah berjuang keras untuk mendapatkan gelar Sarjana. Ia pun mengambil keputusan untuk pergi ke Jakarta. Dengan semangat yang menggebu-gebu Langgeng berjanji begitu ia sukses, ia akan kembali ke desanya untuk membangun desa kedung pring.
          Namun Gegas senja di kota Jakarta ternyata amat berbeda dengan yang ada di Kedung Pring. Langgeng di tuntut untuk menjadi orang yang tak boleh tertinggal, terbentur, bahkan terjatuh di antara gedung pencakar langit yang menjulang. Setelah sekian bulan ia menjadi sarjana pengangguran di Jakarta, kini ia pun memetik hasil manis dari hasil perjuangannya selama ini. Ia memulai untuk membuka usaha restoran dengan menerapkan strategi yang unik, yaitu dengan mengkombinasikan bumbu-bumbu antar daerah. Dan mengikutsertakan restorannya dalam ajang kontes yang sangat membantu untuk mendongkrak citra restorannya tersebut. Karena usaha retorannya berkembang pesat maka Langgeng pun menyerahkan kendali restoran tersebut ke tangan teman-temanya semasa kuliah yang dengan sama-sama membangun restoran tersebut.
          Akhirnya Langgeng pun kembali ke desa, untuk membangun desanya.
Dengan modal kesuksesan membangun usaha di Jakarta, Langgeng semakin mantap dan dekat untuk mewujudkan impiannya dengan modal yang ia punya. Sesampainya di desanya, Langgeng membangun pariwisata Waduk yang dekat dengan desanya. Dalam waduk tersebut Langgeng ingin membuka dan mengembangan perekonomian desanya tersebut dengan menarik turis domestik dan mancanegara untuk berkunjung ke desanya. Impinnya pun kini telah tercapai, Langgeng pun tersenyum manis dengan hasil yang ia dapat.
          Buku yang sangat menarik untuk dibaca semua kalangan. Ceritanya mengalir seakan pembaca mengalami berbagai problema yang melilit sang tokoh. Sang penulis mampu melihat realita yang terjadi di Indonesia. Penulis ingin menggambarkan bagaimana ia sangat mendambakan seorang pemimpin bangsa yang adil dan bijaksana. Disamping itu sang penulis menginginkan adanya pendidikan yang merata. Ia ingin memberitahukan bahwa pendidikan juga sangat diperlukan bagi orang yang tidak mampu. Melalui buku ini pula penulis menuangkan sebuah pemikiran yang sangat realita tentang masalah  politik dan ekonomi  ( dimana suap-menyuap dan korupsi bisa terjadi dimana saja dan bagaimana perjuangan seorang anak yang lahir dari keluarga tidak mampu untuk mewujudkan impiannya yaitu memajukan desa dimana ia tinggal  ). Terakhir buku ini memberitahu kita bahwa sesuatu yang dikerjakan dengan hati, kerja keras dan pantang menyerah akan membuahkan hasil yang manis. (GS-MEY)
Baca Selanjutnya »»